MENJEBAK HANTU MAKAM NGUJANG
Tugas khusus ke ngujang
Sol dan Leha merasa senang karena
tahun ini mereka naik ke kelas IV. Mereka sudah membayangkan apa yang akan
dilakukan selama liburan, terutama
dengan hal yang telah dijanjikan oleh ayah mereka. Ayah berjanji, mereka
akan berlibur ke rumah nenek di Rejotangan untuk melihat Gunung Cemenung. Sol
dan Leha adalah saudara kembar. Meski memiliki jenis kelamin yang berbeda,
mereka selalu kompak.
Namun petang itu, Pak Rojali,
ayah mereka, dengan lembut berkata, “Sol, Leha, kalian terpaksa tidak bisa ikut
ke Rejotangan. Kalian terpaksa ke Ngujang. Tadi pagi bibi Rahmat kesini.”
“Bibi Rahmat? Bi Rahmat yang
minta kami ke Ngujang?” Tanya Sol heran.
“Bukan Sol, Akulah yang ingin
kalian ke sana.”
“Ah, tak mau ayah. Aku tida
menyukai Kamdi,” kata Leha tegas, tak senang. “Bi Rahmat biasa menyebut kami
berandalan ayah. Kamdi juga nakal. Ia sering mengajak kawan-kawannya untuk
mengganggu dan mengejek kami.”
“Justru karena Kamdi itulah,
kalian terpaksa harus ke Ngujang. Kamdi sekarang jarang tidur di rumah, kasihan
bibi kalian. Bi Nana kan adik kandung ayahmu.” Ujar Bu rojali.
*****
Tujuh bulan yang lalu Bi Rahmat
sekeluarga masih tinggal bersama keluarga Pak Rojali di Kalidawir. Pak Rahmat
bekerja sebagai penjual daging sapi di pasar. Pada suatu hari ada seseorang
menawarkan sebuah rumah di daerah kota. Iseng-iseng paman Rahmat menengok rumah
itu. Letaknya hanya 50 meter dari jalan raya. Paman Rahmat berfikir bahwa dia bisa melanjutkan dagang
daging dan membuka warung untuk kebutuhan sehari-hari. Bibi Rahmat juga
tertarik. Namun sayangnya Bi Rahmat tidak mau melihat keadaan rumah tersebut
dan langsung saja setuju. Maka terlaksanalah jual beli tersebut.
Tapi ada suatu hal yang justru
lupa diceritakan oleh Paman Rahmat, yang ternyata bagi Bi Rahmat adalah hal
yang sangat luar biasa. Yaitu bahwa bagian belakang rumah berbatasan dengan
kuburan tua yang rimbun ditumbuhi pohon-pohon beringin tinggi dan besar. Setelah
mendapatkan nasihat dari Bu Rojali, akhirnya Bi Ramat mau pindah ke rumah itu.
Setelah pindah, Paman Rahmat
mengalami banyak perubahan. Paman Rahmat malas untuk berjualan daging. Dia
mulai keranjingan wayang kulit. Jika ditanya dia selalu menjawab bahwa hal ini
sudah menjadi hobinya sejak kecil.
Malam itu Paman Rahmat pulang
cukup larut. Dia mengajak istri dan anaknya untuk bertirakat. Kemudian dia
bergegas ke sumur. Di pelataran kamar mandi dia terjatuh dan meninggal dunia
seketika itu juga.
Kata warga kampung, Paman Rahmat
diambil oleh hantu kuburan yang terletak di belakang rumah. Tapi Pak Rojali berpendapat,
Paman Rahmat diserang “angin duduk”.
Sol dan Leha berpendapat bahwa
Paman Rahmat meninggal karena gegar otak. Sebab di bagian kepalanya, kata orang
yang memandikannya, terdapat benjolan. Benjolan tersebut diduga karena
terbentur dinding sumur.
“Ayah pernah melihat sumur Bibi
di Ngujang?” Tanya Sol.
“Ya, mengapa?”
“Dalamnya tak lebih dari dua
puluh meter, ayah. Padahal Paman dan Kamdi jarang sekali di rumah. Yang setiap
hari menggunakan sumur hanya Bibi. Jadi terlalu sedikit air yang dapat
membasahi lantai pelatarannya. Jarang juga digosok. Aku melihat sendiri betapa
licinnya.
Pendek kata, Pak Rojali
sependapat dengan kedua anaknya.
*****
Tukiyem, Pelayan yang
mencurigakan
Hari sudah pukul delapan malam ketika
Sol dan Leha tiba di rumah Bibi Rahmat. Mereka begitu iba melihat keadaan Bi Rahmat.
Dia kelihatan begitu kurus. Apalagi mendengar kabar bahwa Kamdi tidak hanya
tidak naik kelas, tapi juga hampir dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya
yang luar biasa. Setelah beberapa saat Sol dan Eha minta diri untuk ganti
pakaian.
“Kemana Kamdi Bi?” Tanya Leha ketika
dia muncul di ruang tengah kembali.
“Aku suruh dia menyusul Tukiyem.
Tadi kusuruh beli soto. Dia memang orangnya agak sembarangan. Suka molor jika
disuruh.” Ungkap Bi Rahmat.
Tak lama kemudian Tukiyem
datang, tanpa Kamdi. Bahkan tidak bertemu Kamdi, tak pula membawa soto yang
dipesan Bi Rahmat.
“Sotonya habis bu.” Jawab Tukiyem
santai sambil bergegas ke kamarnya dan tidur.
Sol dan Leha hanya berpandangan
penuh tanda Tanya melihat pemandangan yang aneh antara majikan dan pembantu
tersebut.
Bi Rahmat cerita banyak tentang
Kamdi. Kamdi sering tidak pulang. Tukiyem juga. Kalau sudah tidur seperti
batang pisang roboh. Dia juga punya pacar di pasar. Pacarnya juga tua. Tukang
sapu pasar.
“Bibi masih berdagang di pasar
bukan?”. Tanya Leha.
“Masih,” jawab bibinya, “di
seberang jalan raya. Aku sekarang membuka kios kecil di sana.”
Di tengah perbincangan,
samar-samar Sol dan Leha mendengar suara dari pelataran depan. Mirip dengan
suara batu kerikil yang diinjak.
“Kamdi bi?” Tanya Sol.
Bi Rahmat menggelengkan
kepalanya. Tapi tidak berkata apapun.
Suara langkah itu ternyata tidak
langsung menuju ke beranda. Melainkan membelok ke kanan, ke samping rumah. Dan terus
ke belakang. Sol sebagai anak laki-laki merasa penasaran. Dia bangkit dan
membuka jendela samping. Tapi keadaan di luar cukup gelap sehingga Sol hanya
sempat melihat bergeraknya suatu bayangan hitam yang menghilang di bagian
belakang rumah.
“Tutup saja Sol,” pinta Bi Rahmat
dengan suara agak gemetaran.
Sol masih terus berdiri beberapa
saat lagi di depan jendela. Ia agak heran mengapa jendela rumah seberang pagar
masih terbuka. Padahal tak ada lampu menyala dan tanda-tanda orang di dalam.
“Tetangga di sebelah masih yang
dulu kan bi?”. Tak ada jawaban. Sol dan Eha semakin bingung karena Bi Rahmat
menjadi begitu pendiam.
“Ayo kita tidur, tidak usah
menunggu Kamdi, dia tidak akan pulang.” Ajak Bi Rahmat. Sol tidur di kamar Kamdi,
Leha tidur bersama Bibi saja. Seraya bangkit dan berlalu ke kamar tidurnya.
Baik bi, tapi kami masih belum
mengantuk. Kamdi biasa bermalam di mana bi? Tanya Leha beberapa saat kemudian.
“Rumah si Pego, teman bermain si
Kamdi,” mengapa?
“Kenapa tidak minta Tukiyem untuk
menjemputnya?”, Tanya Sol penuh penasaran.
“Jika Tukiyem disuruh menyusul
ke sana, Kamdi tetap tak pulang, Tukiyem ikut hilang!”.
Pelan-pelan Sol dan Eha
meninggalkan ruang tengah dan menuju kamar Tukiyem. Mereka memperhatikan dengan
cermat. Di depan kamar Tukiyem ada ruangan sempit. Langit-langitnya rendah. Ada
sebuah lampu teplok menyala di sudut jauh. Sol tertegun sesaat menemukan pintu
di sebelah kiri terbuka. Pintu itu jelas menuju sumur. Sol juga ingat betul,
pintu tersebut petang tadi dalam keadaan tertutup.
Dengan ragu-ragu Sol menjulurkan
kepalanya ke arah sumur. Tapi ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.
Merasa tidak ada yang bisa ditemukan, Sol menutup pintu kembali.
Leha membuka pintu di sebelah
kanan, letaknya hampir berhadap-hadapan dengan pintu yang menuju sumur. Itulah
kamar Tukiyem. Leha merasa heran karena dugaannya meleset. Mbok Tukiyem tidak
meninggalkan kamar, bahkan dia masih mendengkur. Telapak kakinya juga kering.
“Mbok Yem! Mbok Yem!” panggil
Leha, coba membangunkannya.
“Semua masih seperti tadi…,”
pikir Leha,” semua nampak wajar!”
Tapi Sol dan Leha masih
penasaran. Mereka tetap curiga. Mereka akhirnya meninggalkan kamar Tukiyem
dengan putus asa. Diam-diam dalam hati mereka berjanji akan meneruskan
penyelidikan esok harinya.
Ada apa dengan Bibi Rahmat? Apa
yang disembunyikan Mbok Tukiyem? Ada rahasia apa di balik misteri makam
belakang rumah Bibi Rahmat? Tunggu cerita selanjutnya hanya di Petualangan Sol
dan Leha edisi mendatang!!!