Selasa, 17 September 2013

Petualangan Sol dan Leha




MENJEBAK HANTU MAKAM NGUJANG
Tugas khusus ke ngujang
Sol dan Leha merasa senang karena tahun ini mereka naik ke kelas IV. Mereka sudah membayangkan apa yang akan dilakukan selama liburan, terutama  dengan hal yang telah dijanjikan oleh ayah mereka. Ayah berjanji, mereka akan berlibur ke rumah nenek di Rejotangan untuk melihat Gunung Cemenung. Sol dan Leha adalah saudara kembar. Meski memiliki jenis kelamin yang berbeda, mereka selalu kompak.
Namun petang itu, Pak Rojali, ayah mereka, dengan lembut berkata, “Sol, Leha, kalian terpaksa tidak bisa ikut ke Rejotangan. Kalian terpaksa ke Ngujang. Tadi pagi bibi Rahmat kesini.”
“Bibi Rahmat? Bi Rahmat yang minta kami ke Ngujang?” Tanya Sol heran.
“Bukan Sol, Akulah yang ingin kalian ke sana.”
“Ah, tak mau ayah. Aku tida menyukai Kamdi,” kata Leha tegas, tak senang. “Bi Rahmat biasa menyebut kami berandalan ayah. Kamdi juga nakal. Ia sering mengajak kawan-kawannya untuk mengganggu dan mengejek kami.”
“Justru karena Kamdi itulah, kalian terpaksa harus ke Ngujang. Kamdi sekarang jarang tidur di rumah, kasihan bibi kalian. Bi Nana kan adik kandung ayahmu.” Ujar Bu rojali.
*****
Tujuh bulan yang lalu Bi Rahmat sekeluarga masih tinggal bersama keluarga Pak Rojali di Kalidawir. Pak Rahmat bekerja sebagai penjual daging sapi di pasar. Pada suatu hari ada seseorang menawarkan sebuah rumah di daerah kota. Iseng-iseng paman Rahmat menengok rumah itu. Letaknya hanya 50 meter dari jalan raya. Paman Rahmat  berfikir bahwa dia bisa melanjutkan dagang daging dan membuka warung untuk kebutuhan sehari-hari. Bibi Rahmat juga tertarik. Namun sayangnya Bi Rahmat tidak mau melihat keadaan rumah tersebut dan langsung saja setuju. Maka terlaksanalah jual beli tersebut.
Tapi ada suatu hal yang justru lupa diceritakan oleh Paman Rahmat, yang ternyata bagi Bi Rahmat adalah hal yang sangat luar biasa. Yaitu bahwa bagian belakang rumah berbatasan dengan kuburan tua yang rimbun ditumbuhi pohon-pohon beringin tinggi dan besar. Setelah mendapatkan nasihat dari Bu Rojali, akhirnya Bi Ramat mau pindah ke rumah itu.
Setelah pindah, Paman Rahmat mengalami banyak perubahan. Paman Rahmat malas untuk berjualan daging. Dia mulai keranjingan wayang kulit. Jika ditanya dia selalu menjawab bahwa hal ini sudah menjadi hobinya sejak kecil.
Malam itu Paman Rahmat pulang cukup larut. Dia mengajak istri dan anaknya untuk bertirakat. Kemudian dia bergegas ke sumur. Di pelataran kamar mandi dia terjatuh dan meninggal dunia seketika itu juga.
Kata warga kampung, Paman Rahmat diambil oleh hantu kuburan yang terletak di belakang rumah. Tapi Pak Rojali berpendapat, Paman Rahmat diserang “angin duduk”.
Sol dan Leha berpendapat bahwa Paman Rahmat meninggal karena gegar otak. Sebab di bagian kepalanya, kata orang yang memandikannya, terdapat benjolan. Benjolan tersebut diduga karena terbentur dinding sumur.
“Ayah pernah melihat sumur Bibi di Ngujang?” Tanya Sol.
“Ya, mengapa?”
“Dalamnya tak lebih dari dua puluh meter, ayah. Padahal Paman dan Kamdi jarang sekali di rumah. Yang setiap hari menggunakan sumur hanya Bibi. Jadi terlalu sedikit air yang dapat membasahi lantai pelatarannya. Jarang juga digosok. Aku melihat sendiri betapa licinnya.
Pendek kata, Pak Rojali sependapat dengan kedua anaknya.
*****
Tukiyem, Pelayan yang mencurigakan
Hari sudah pukul delapan malam ketika Sol dan Leha tiba di rumah Bibi Rahmat. Mereka begitu iba melihat keadaan Bi Rahmat. Dia kelihatan begitu kurus. Apalagi mendengar kabar bahwa Kamdi tidak hanya tidak naik kelas, tapi juga hampir dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya yang luar biasa. Setelah beberapa saat Sol dan Eha minta diri untuk ganti pakaian.
“Kemana Kamdi Bi?” Tanya Leha ketika dia muncul di ruang tengah kembali.
“Aku suruh dia menyusul Tukiyem. Tadi kusuruh beli soto. Dia memang orangnya agak sembarangan. Suka molor jika disuruh.” Ungkap Bi Rahmat.
Tak lama kemudian Tukiyem datang, tanpa Kamdi. Bahkan tidak bertemu Kamdi, tak pula membawa soto yang dipesan Bi Rahmat.
“Sotonya habis bu.” Jawab Tukiyem santai sambil bergegas ke kamarnya dan tidur.
Sol dan Leha hanya berpandangan penuh tanda Tanya melihat pemandangan yang aneh antara majikan dan pembantu tersebut.
Bi Rahmat cerita banyak tentang Kamdi. Kamdi sering tidak pulang. Tukiyem juga. Kalau sudah tidur seperti batang pisang roboh. Dia juga punya pacar di pasar. Pacarnya juga tua. Tukang sapu pasar.
“Bibi masih berdagang di pasar bukan?”. Tanya Leha.
“Masih,” jawab bibinya, “di seberang jalan raya. Aku sekarang membuka kios kecil di sana.”
Di tengah perbincangan, samar-samar Sol dan Leha mendengar suara dari pelataran depan. Mirip dengan suara batu kerikil yang diinjak.
“Kamdi bi?” Tanya Sol.
Bi Rahmat menggelengkan kepalanya. Tapi tidak berkata apapun.
Suara langkah itu ternyata tidak langsung menuju ke beranda. Melainkan membelok ke kanan, ke samping rumah. Dan terus ke belakang. Sol sebagai anak laki-laki merasa penasaran. Dia bangkit dan membuka jendela samping. Tapi keadaan di luar cukup gelap sehingga Sol hanya sempat melihat bergeraknya suatu bayangan hitam yang menghilang di bagian belakang rumah.
“Tutup saja Sol,” pinta Bi Rahmat dengan suara agak gemetaran.
Sol masih terus berdiri beberapa saat lagi di depan jendela. Ia agak heran mengapa jendela rumah seberang pagar masih terbuka. Padahal tak ada lampu menyala dan tanda-tanda orang di dalam.
“Tetangga di sebelah masih yang dulu kan bi?”. Tak ada jawaban. Sol dan Eha semakin bingung karena Bi Rahmat menjadi begitu pendiam.
“Ayo kita tidur, tidak usah menunggu Kamdi, dia tidak akan pulang.” Ajak Bi Rahmat. Sol tidur di kamar Kamdi, Leha tidur bersama Bibi saja. Seraya bangkit dan berlalu ke kamar tidurnya.
Baik bi, tapi kami masih belum mengantuk. Kamdi biasa bermalam di mana bi? Tanya Leha beberapa saat kemudian.
“Rumah si Pego, teman bermain si Kamdi,” mengapa?
“Kenapa tidak minta Tukiyem untuk menjemputnya?”, Tanya Sol penuh penasaran.
“Jika Tukiyem disuruh menyusul ke sana, Kamdi tetap tak pulang, Tukiyem ikut hilang!”.
Pelan-pelan Sol dan Eha meninggalkan ruang tengah dan menuju kamar Tukiyem. Mereka memperhatikan dengan cermat. Di depan kamar Tukiyem ada ruangan sempit. Langit-langitnya rendah. Ada sebuah lampu teplok menyala di sudut jauh. Sol tertegun sesaat menemukan pintu di sebelah kiri terbuka. Pintu itu jelas menuju sumur. Sol juga ingat betul, pintu tersebut petang tadi dalam keadaan tertutup.
Dengan ragu-ragu Sol menjulurkan kepalanya ke arah sumur. Tapi ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Merasa tidak ada yang bisa ditemukan, Sol menutup pintu kembali.
Leha membuka pintu di sebelah kanan, letaknya hampir berhadap-hadapan dengan pintu yang menuju sumur. Itulah kamar Tukiyem. Leha merasa heran karena dugaannya meleset. Mbok Tukiyem tidak meninggalkan kamar, bahkan dia masih mendengkur. Telapak kakinya juga kering.
“Mbok Yem! Mbok Yem!” panggil Leha, coba membangunkannya.
“Semua masih seperti tadi…,” pikir Leha,” semua nampak wajar!”
Tapi Sol dan Leha masih penasaran. Mereka tetap curiga. Mereka akhirnya meninggalkan kamar Tukiyem dengan putus asa. Diam-diam dalam hati mereka berjanji akan meneruskan penyelidikan esok harinya.
Ada apa dengan Bibi Rahmat? Apa yang disembunyikan Mbok Tukiyem? Ada rahasia apa di balik misteri makam belakang rumah Bibi Rahmat? Tunggu cerita selanjutnya hanya di Petualangan Sol dan Leha edisi mendatang!!!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar